Sunday, September 27, 2009

Utusan-utusan Malaikat Maut kepada Orang yang Hendak Meninggal Dunia

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa sesungguhnya seorang Nabi bertanya kepada malaikat maut, "Apakah kamu punya utusan yang kamu kirim kepada manusia supaya mereka waspada terhadap kamu?" Malaikat maut menjawab, "Benar. Utusanku banyak sekali yaitu musibah, penyakit, uban, perasaan bingung, perubahan pendengaran, perubahan penglihatan, dan masih banyak lagi. Itu semua adalah utusanku. Jika seseorang didatangi oleh salah satu utusanku tersebut tetapi belum juga bertobat, maka sebelum mencabut nyawanya aku sendiri yang akan turun bertindak selaku utusan dan pemberi peringatan yang terakhir. Karena , ia sudah kebal terhadap semua yang aku utus."

Sejak pagi saat matahari terbit hingga sore saat matahari terbenam, malaikat maut turun dan berseru, "Wahai orang- orang yang telah berusia empat puluh tahun! Sudah waktunya kalian mengambil bekal, selagi batin kalian masih tajam, dan anggota- anggota tubuh kalian masih kuat. Wahai orang- orang yang telah berusia lima puluh tahun! Sudah dekat waktunya mengambil dan menuai. Wahai orang- orang yang telah berusia enam puluh tahun! Kenapa kalian lupa akan siksa dan enggan menjawab? Apakah kalian punya penolong?"


"Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan apakah (tidak datang) kepada kamu pemberi peringatan?" (Faathir: 37)

Demikian dituturkan oleh Abul Faraj Ibnul Jauzi dalam kitab Raudhat al-Musytaq waath Thariq Ila al Malik al-Khallaq.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Bersabda, "Allah punya alasan kepada seseorang yang Dia tangguhkan ajalnya sampai ia berusia enam puluh tahun." Alasan terbesar Allah terhadap hamba-Nya ialah diutusnya para rasul kepada mereka untuk menyempurnakan hujjah-Nya atas mereka. Allah berfirman,
"Kami tidak mengazab sebelum kami mengutus para rasul." (al-Israa': 15)

Allah juga berfirman, "Dan telah datang kepada kamu yang pemberi peringatan." Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud pemberi peringatan ialah Al-Qur'an. Dan juga ada yang berpendapat, yaitu rasul. Tetapi, menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, Sufyan, Wai', Husain ibnul Fadhal, al-Farra', dan ath-Thabari, yang dimaksud ialah uban yang bisa muncul pada usia dewasa sebagai tanda lepasnya usia anak- anak atau remaja.

Al-Qadhi Mundzir bin Sa'id al-Balwathi mengatakan,

"Masih berapa lama lagi kamu membisu?
Padahal ubanmu terus meninggi
Masih berapa lama lagi kamu pura- pura bodoh?
Padahal kamu ini sejatinya orang- orang berakal
Bagaimana kamu masih bisa asyik bersenang- senang begini,
sementara yang memberi peringatan telah datang kepadamu
Hai orang yang masih berdiam di rumah, saatnya berangkat
Karena setelah ini masih ada perjalanan di hari yang sangat berat
Sesungguhnya kematian itu didahului sekarat
Karena itu tunggulah dengan seksama
Jika ia telah tiba, tabib yang datang padamu tidak akan sanggup mengobatinya
Setelah kamu akan mati lalu menjadi hancur
akan terdengar seruan yang harus dipenuhi
Kamu sudah sangat paham hal- hal yang menyangkut akhirat
Karena itu berusahalah untuk mencari bekalnya
ingatlah pada suatu hari dimana kamu pasti dihisab
yang ingat kematian adalah orang yang insyaf bahwa ia pasti kembali pada Tuhannya
Setiap saat kematian selalu mengintaimu
Setiap hari ia membidikmu dengan anak panah
Dan suatu saat pasti akan tepat mengenaimu."


Diriwayatkan bahwa malaikat maut suatu hari memasuki rumah Nabi Daud as. "Siapa kamu?" tanya Daud. "Aku adalah yang semua raja takut dan tidak mau menerima suap," jawab malaikat maut."Kamu pasti malaikat maut," kata Daud. "Benar." kata malaikat maut. "Kamu datang padaku, sementara aku belum bersiap- siap begini?" tanya Daud. "Hai Daud, sekarang dimana si fulan kawan dekatmu itu? dan di mana si fulan tetanggamu itu?" "Sudah mati," jawab Daud. " Seharusnya mereka itu menjadi pelajaran bagimu untuk mempersiapkan diri," kata malaikat maut.

Tetapi, ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud yang pemberi peringatan ialah sakit demam. Nabi saw. bersabda,"Demam adalah pemandu kematian."

Kata al-Azhari, "Sesungguhnya demam adalah kurir kematian. Orang yang menderita penyakit ini merasakan datangnya kematian."
Ada lagi yang berpendapat bahwa yang dimaksud pemberi peringatan ialah matinya kaum kerabat, teman- teman, saudara- saudara dan orang- orang dekat lainnya.
Ada juga yang mengatakan bahawa yang dimaksud pemberi peringatan iaah akal yang sempurnayang bisa digunakan untuk mengenali hakekat segala sesuatu, dan untuk mengetahui secara jelas mana perkara- perkara yang baik dan mana perkara- perkara yang buruk. Seseorang yang berakal ia akan beramal buat kepentingan akhiratnya dan mengharapkan balasan di sisi Tuhannya. Dia itulah si pemberi peringatan.

Peringatan paling besar terhadap manusia adalah diutusnya para rasul, dan selanjutnya adalah uban seperti yang dijelaskan di atas. Usia enam puluh tahun adalah puncak peringatan, karena usia ini sangat dekat dengan medan kematian. Usia enam puluh tahun adalah usia saatnya sadar, khusyu', tunduk kepada Allah, menanti kematian, dan bertemu dengan Allah. Peringatan itu disampaikan oleh Allah melalui Nabi saw. dan melalui uban yang biasa mulai muncul pada usia empat puluh tahun. Allah Ta'ala berfirman,

"Dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa,'Ya Tuhan, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau." (al-Ahqaaf: 15)
Allah menuturkan bahwa seseorang yang telah mencapai usia empat puluh tahun itu sudah saatnya untuk mengetahuimkadar nikmat- nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadanya dan kepada kedua orang tuanya. Selayaknya ia lalu mensyukurinya.

Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi, dan Nasai bahwa Rasulullah bersabda,"Barangsiapa yang memiliki satu uban dalam islam, itu akan menjadi cahaya baginya pada hai kiamat nanti."

Seorang penyair dusun berkata tentang uban dan semir,

"Orang sengsara ialah yang tak punya uban
dan mengubah warna rambutnya dengan semir
Ia berharap wajahnya bisa tampak tampan dan awet muda
padahal setiap bangunan itu pasti akan roboh
Ada dua hal yang meskpun ditangisi dengan cucuran air mata darah
tetapi tidak akan pernah kembali
yaitu lepasnya masa muda dan matinya orang- orang tercinta."

Dikutip dari Karya Imam Al-Qurthubi, Rahasia Kematian, Alam Akhirat dan Kiamat.
Selengkapnya...

Saturday, September 26, 2009

Gadis Yang Tak Mencuri Hatiku

Segala puji hanya milik Allah -Subhanahu wa ta`ala- semata. Sholawat dan salam atas seorang nabi yang tiada nabi sesudahnya. Amma ba’du.
Siapakah aku, sehingga diriku pantas diperebutkan? Aku adalah kehormatan. Aku adalah kecemburuan yang bersemayam di dada setiap muslim yang beriman kepada Allah -Subhanahu wa ta`ala- dan hari akhir. Aku adalah akal yang sehat, aku adalah hukum-hukum syariat. Aku adalah kemuliaan. Aku adalah rasa malu. Aku adalah kesucian. Aku adalah kebaikan, dan aku adalah kehidupan yang bahagia.
Setelah aku perkenalkan kepada kalian siapakah sebenarnya diriku ini? Maka aku merasa perlu untuk memperkenalkan kepada kalian, siapakah gadis yang tidak menarik hatiku, yang tidak akan pernah merenggut cintaku.
Dia adalah gadis yang tidak tahu arah dan tersesat jalan; gadis yang tidak punya adab, akhlaq dan kepribadian. Aku katakan kepada kalian, kenapa hatiku tidak terpikat dan tidak tertarik? Karena dia telah menanggalkan rasa malu dan mencampakkannya. Karena dia telah melepaskan diri dari Islam, dan menggantinya dengan gaya hidup wanita-wanita barat yang durhaka.

Dia mengira kecantikan adalah segalanya! Tapi, sesungguhnya kecantikan itu bukanlah seperti yang dibayangkan oleh wanita yang hina lagi terperdaya ini. Kecantikan itu adalah kecantikan ilmu, adab, dan pribadi.
Siapapun yang berjalan dalam gelimang narkotika dan jarum suntik yang najis itu, maka dia adalah seburuk-buruk manusia, di hadapan orang yang tidak silau akan penampilan.
Gadis itu tidak menyadari, bahwa kesombongan akan kecantikan dan hartanya, justru akan menjerumuskannya dalam kebinasaan abadi di dalam neraka.
Sebenarnya, wanita jalang yang hanya diperebutkan laki-laki hidung belang itu, tidak lagi bisa terpagari oleh agama, kehormatan dan rasa malu yang dimilikinya. Dia, wanita yang telah mencampakkan kerudung kehormatan dan jilbab kesucian. Dia, tidak pernah berpikir tentang kehidupan di dalam kubur dan siksaannya. Allah telah berfirman:
إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً
"Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan hitungan." (QS. an-Naba’: 27).

Dia tidak lagi memiliki sekelumit niat atau sisa-sisa semangat untuk meneladani wanita wanita shalihah, berbakti kepada Islam, dan mengharap surga Allah -Subhanahu wa ta`ala- yang luasnya seluas langit dan bumi.
Yang ada dalam benaknya hanyalah apa yang dipakai oleh artis fulan dan fulan? Film-film yang diperankan oleh artis-artis Prancis, Hongkong, Hollywood, dan Bollywood?
Demi Allah Pemilik Ka’bah, alangkah ruginya wanita yang malang ini. Padahal Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:

« صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَارِ لَمْ أَرَهُمَا قَطُّ: نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ .. »
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah sama sekali kulihat; wanita-wanita yang mengenakan pakaian tapi telanjang, dan wanita-wanita yang gampang tergoda dan suka menggoda.”
Alangkah ruginya dia. Ketika di dunia, dia menjadi bahan cemoohan di antara saudara dan keluarga. Sementara di akhirat, siksa pedih akan menimpanya.
Betapa lemah akalnya. Dia tidak pernah mau mendengar nasihat dan peringatan orang-orang yang menyayanginya dan yang mengkhawatirkannya dari neraka yang bahan bakarnya manusia.
Yang lebih naif, dalam pandangannya, orang-orang yang selalu mengingatkannya adalah orang-orang yang terbelakang, tidak mengerti peradaban, serta tidak memahami hakekat kehidupan. Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika Dia berfirman:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ
"Apakah engkau mengira terhadap orang yang menjadikan sesembahan hawa nafsunya dan Allah telah menyesatkannya berada diatas ilmu sedangkan Allah telah menutup pendengarannya dan hatinya dan telah menjadikan atas penglihatan mereka tertutup, maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah." (QS. al-Jatsiyah:23).
Ya, gadis ini telah menjadi budak hawa nafsunya. Angan-angannya telah menipunya. Berapa kalipun engkau ingatkan dan engkau nasehati, tetap saja dia enggan mendengar. Dia akan terus berjalan dalam kubangan lumpur dan kegelapan. Ucapan orang-orang yang mengingatkanya tidak mampu lagi menyelamatkannya untuk tidak terperosok ke dalam neraka Hawiyah
Waktu terus berjalan, dan dia tetap dalam lalai dan sesat. Dia lupa, bahwasanya setiap hari yang berlalu adalah pengurangan dari umurnya, dan setiap jam yang berputar, selalu membuatnya semakin dekat kepada kuburan yang sudah menantinya.
Dia benar-benar telah menjadi musuh bagi dirinya, agamanya, dan masyarakatnya. Dengan tanpa rasa malu, dia selalu membual di depan kawan-kawannya, bercerita tentang masalah-masalah yang tidak pantas, yang siapapun pasti akan merasa malu untuk menceritakannya. Semua itu dia dapatkan dari media audio visual, cetak dan elektronika. Bahkan dia mengajak teman-temannya untuk meniru tingkah lakunya. Maka, sudah pantas kalau dia di kemudian hari akan mendapatkan dosanya dan dosa setiap orang yang mengikutinya.
Betapa ruginya wanita ini…..!!!!
Umurnya hilang, perbuatannya sesat, sedang maut setiap hari memanggilnya.
Bisa jadi, dia berhasil meraih ijazah kesarjanaan. Akan tetapi ijazah ini justru akan menambah beban yang memberatkannya, dan bukan menjadi keberuntungan yang membahagiakannya.
Betapa hina dan tertipunya gadis ini. Dia tenggelam dalam lautan angan-angan, dan binasa dalam samudera asa. Padahal kematian adalah sangat dekat. Lebih dekat dari tali sandalnya.
Dia suka dengan jalan-jalan di pasar-pasar dan dan tempat hiburan, tanpa memperhatikan aturan Allah -Subhanahu wa ta`ala- untuk dirinya.
Dia biasa tidur amat nyenyak tanpa ingat kewajiban. Dia tidak pernah sadar akan adzab Allah yang telah menantinya. Dia bisa tertawa riang bersama teman-temannya, padahal Rabb-nya Yang Maha Suci memurkainya. Dia tidak pernah ingat tempat tinggalnya yang sempit dan gelap di kuburan kelak, padahal dia pasti akan dibaringkan di dalamnya.
Dia tidak suka jika ada orang yang bicara soal kematian, karena akan mengganggu kelezatannya dalam menikmati hal-hal yang haram. Dia berusaha menipu dirinya sendiri hingga ajal menyerangnya. Sehingga, pantaslah jika kelak dia akan menjadi diantara orang orang yang berkata, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal kebajikan) untuk hidupku ini” (QS. al-Fajr:24) “Betapa sangat menyesalnya aku atas kelalaianku dalam (melakukan kewajiban) terhadap Allah.” (QS. az-Zumar:56).
Maka jika maut telah mendekat, engkau akan melihat tangis dan air mata, ketika ditampakkan di hadapannya rekaman kehidupannya yang hitam dan kotor. Dia telah memperdaya banyak pemuda, dengan dandanan, perhiasan dan suaranya yang nakal. Dia mengkhianati kedua orang tuanya dan membuat murka tuhannya.
Kelak, ketika sudah berada di depan pintu gerbang akhirat, dia akan mengiba, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku mengerjakan amal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan” (QS. al-Mukminun:99-100).
Aku ingatkan kepada gadis itu, “Ketahuilah, bahwasanya kuburmu sekarang sudah menunggumu. Kubur itu, untuk dirinya, bisa berwujud sebuah taman diantara taman-taman di surga, tapi juga bisa berubah menjadi lubang diantara lubang-lubang neraka. Jika engkau berada di dalam yang pertama, maka berbahagialah dan bergembiralah. Tapi, jika engkau berada di dalam yang kedua, betapa celaka dan ruginya dirimu.
Demi Allah, tidakkah engkau duduk merenung sejenak? Di manakah tempat kembalimu, di antara kedua lubang tersebut? Kuburan manakah yang menjadi balasan bagimu ?
Hai gadis yang bimbang, tidakkah engkau ingat seorang teman wanitamu, yang telah telah dicabut nyawanya oleh Allah? Tidak pernahkah engkau membayangkan, temanmu itu berkata bahwa dia akan beramal soleh seandainya diberi kesempatan untuk kembali hidup didunia? Dan tidakkah engkau berpikir dan bertanya pada dirimu: Kenapa maut telah menjemputnya, sementara dirimu di biarkan hidup ? Bisa jadi, ini merupakan suatu rahmat Allah -Subhanahu wa ta`ala- bagimu, Dia ingin mengingatkanmu dan memberi kesempatan padamu.
Maka sudah sepantasnya, jika orang yang mau mendengar nasehat orang lain diberi predikat sebagai orang yang berakal.
Jika engkau sudah mulai tertarik dengan ampunan Allah dan rahmatNya, maka ingatlah sebuah ayat yang sering dibaca Abu Hanifah rahimahullah, ketika dia sholat tahajjud di akhir malam. Dia sering tidak mampu menyelesaikan bacaannya karena menangis dan takut akan termasuk di antara mereka. Padahal, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang amat bertakwa dan zuhud. Ayat itu adalah firman Allah, “Dan tampak bagi mereka dari Allah atas apa yang mereka tidak mengiranya.” (QS. az-Zumar:47). Sementara dirimu telah menumpuk amalan-amalan buruk dan engkau merasa aman dari siksa Allah. Ini merupakan puncak kerugian.
Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya ada suatu kaum, sesembahan mereka berupa angan-angan akan mendapatkan ampunan Allah dengan mudah, sehingga ketika keluar dari dunia, dia tidak mempunyai amal kebaikan sama sekali. Salah seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku berprasangka baik kepada Rabku”, padahal dia dusta. Seandainya berprasangka baik, pasti dia akan memperbaiki amalannya.” Kemudian beliau membaca ayat, yang artinya, “Dan telah tampak bagi mereka dari Allah, apa yang tidak mereka sangka sangka.” (QS. az-Zumar:47).
Wahai saudariku, wahai orang yang telah mendholimi dirinya sendiri, janganlah engkau tertipu oleh wanita-wanita jalang yang durhaka, atau oleh orang-orang yang seperti mereka. Orang-orang seperti mereka selalu hidup dalam ancaman bahaya, dan bukan dalam kemajuan. Karena, sesungguhnya wanita-wanita kafir itu tidak lebih dari apa yang Allah -Subhanahu wa ta`ala- firmankan, “Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat dari jalan kebenaran.” (QS. al-Furqon:44).
Kemudian perhatikanlah tempat kembali mereka setelah itu, “Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, siksa neraka jahanam kalian kepadanya akan mendatangi.” (QS. al-Anbiya:98). Allah -Subhanahu wa ta`ala- telah berfirman untuk mengingatkan kita dan kaum muslimin, “Dan orang orang yang kafir, mereka bersenang senang dan mereka makan seperti binatang maka neraka adalah tempat kembali bagi mereka.” (QS. Muhammad:12).
Apakah engkau ingin seperti mereka? Kulitmu akan merinding dan bulu kudukmu berdiri. Kemudian, engkau akan berteriak sekeras kerasnya, “Aku berlindung kepada Allah”. Maka, sesudah itu aku berharap kamu akan berkata: “Aku mohon ampunanMu, ya Rabbi”.
Wahai saudariku, maafkan aku jika terlalu keras dalam mengingatkanmu. Sesungguhnya ini adalah jeritan sayang, nasihat cinta kasih, teriakan cemburu. Aku telah menulisnya dengan air mataku, agar engkau membuka telingamu, dan engkau mengikuti hati nuranimu serta agar pikiranmu kembali sadar. Ini adalah peringatan bagi orang yang memiliki hati dan pendengaran.
Aku memohon kepada Allah, semoga Allah menjadikan pandanganmu sebagai ibroh (pelajaran), diammu sebagai perenungan, dan ucapanmu sebagai dzikir. Dan semoga Dia menjadikan dirimu sebagai hambaNya yang mendapat petunjuk dan mampu memberi petunjuk, hidup bahagia, mati syahid, dan dikumpulkan bersama Aisyah dan Fatimah serta Khadijah Radiallahuanhunn. Bersama wanita wanita yang telah mendapat limpahan nikmat Allah, yang berupa nasihat, dakwah kepada Allah serta ikhlas terhadap agama ini. Amiiinn..

* Majalah Qiblati Vol 1 Edisi 4

Selengkapnya...

Saturday, August 1, 2009

KUBUR ADALAH UJIAN AKHIRAT YANG PERTAMA

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bahwa ia berkata, "Rasulullah melarang mengecat kubur, atau duduk di atasnya, atau mendirikan bangunan padanya." Diriwayatkan oleh Tirmidzi juga dari Jabir bahwa ia berkata, "Rasulullah melarang mengecat kubur, menulisinya, mendirikan bangunan di atasnya, dan menginjak- injaknya." Kata Abu Isa, hadits ini sahih.

Menurut para ulama, Imam Malik tidak suka kubur dicat, karena hal itu termasuk membanggakan dan menonjolkan perhiasan kehidupan dunia. Padahal, kubur adalah tempat ujian akhirat, sehingga tidak layak untuk dijadikan kebanggaan. Yang dapan menghiasi kubur seorang mayit adalah amalnya. Seorang penyair berkata,

"Jika kamu menguasai perkara suatu kaum semalam saja
ketahuilah, sesudah itu kamu dimintai tanggung jawab
Dan apabila kamu mengusung jenazah ke kubur
sadarlah bahwa setelah dia kamu pasti yang akan diusung
Wahai penghuni kubur,
bagian atas kuburmu bisa saja diukir
tetapi kamu yang di dalam mungkin sedang dibelenggu."


Disebutkan dalam Sahih Muslim sebuah riwayat dari Abu al-Hayyaj al-Asadi yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, "Maukah kamu aku wasiatkan sesuatu seperti yang pernah diwasiatkan oleh Rasulullah kepadaku? Setiap kali melihat patung kamu harus merusaknya, dan setiap kali melihat kubur yang tinggi kamu harus meratakannya."

Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Al-Marasil, dari Ashim bin Abu Shalih bahwa ia berkata, "Aku melihat kubur Nabi setinggi hanya kira- kira satu jengkal." Menurut sebagian ulama, kubur maksimal hanya boleh dibentuk seperti punuk onta sekedar untuk tanda pengenal. Tetapi, tidak boleh terlalu ditinggikan seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang- orang jahiliyah dahulu. Mereka melakukan hal itu untuk kebanggaan diri.

"Orang- orang kaya itu jika ada yang mati
mereka membangun istana di atas kuburnya
untuk dibanggakan kepada orang- orang miskin
Demi Allah,
padahal seandainya kamu buka kubur- kubur itu
kamu tidak akan bisa mengenalinya
mana orang yang kaya dan mana orang yang miskin
mana yang kulitnya ditutupi kain biasa, dan mana yang ditutupi kain sutera
semua dimakan tanah
ini bukti bahwa tidak ada keutamaan bagi yang kaya atas yng miskin."


Wahai orang yng tersesat dari jalan kebenaran, mana harta yang selama ini kamu kumpulkan dan kamu persiapkan untk menghadapi huru hara kematian? Setelah mati begini, kamu tidak punya apa- apa. Kamu yang semula terhormat, sekarang menjadi hina dina. Keluarga dan rumah- rumah mewah kamu tinggalkan begitu saja. Mengapa dahulu kamu tidak mau menempuh jalan yang benar? Mengapa kamu tidak menganggap penting membawa bekal akhirat? Sekarang kamu benar- benar dalam posisi yang sangat sulit dan berat.

Wahai orang yang tertipu, betapapun kamu harus berangkat menjemput hari yang penuh huru- hara dan ketakutan yang mencekam. Tidak ada yang bermanfaat bagimu d hadapan Allah Yang MahaKuasa. Tanganmu tidak lagi keras, langkah kakimu lumpuh, mulutmu tidak bisa lagi berbicara, dan anggota- anggota tubuhmu yang lain tak dapat bergerak. Jika Allah mengasihi, kamu beruntung masuk surga. dan jika tidak, kamu akan celaka masuk neraka.

Wahai orang yang lalai, berapa kali kamu diingatkan tetapi kamu tetap saja lalai. Kamu pikir ini masalah kecil? Dan, kamu anggap ini persoalan sepele? semua sudah tidak ada artinya sama sekali jika sudah tiba saatnya kamu harus berangkat menuju akhirat. Kamu kira hartamu bisa menyelamatkanmu ketika kamu dicelakakan oleh amal- amal perbuatanmu sendiri? Kamu kira penyesalanmu berguna ketika kakimu sudah terpelesat? Kamu kira keluargamu ada yang bisa menolongmu ketika kamu sudah dikumpulkan di padang mahsyar? Tidak. Demi Allah, perkiraanmu keliru. Kamu dahulu tidak pernah merasa cukup, kamu tidak pernah merasa kenyang makan yang haram, kamu tidak pernah mau mendengar nasihat- nasihat, dan juga tidak pernah takut ancaman. Kamu birkan dirimu tenggelam bersama kesenangan nafsu, berjalan membabi buta, selalu silau oleh kemewahan, dan tidak pernah ingat pada apa yang akan terjadi di hadapanmu.

Wahai orang yang tidur dalam kelengahan, berapa lama kamu telah lengah? Kamu pikir kamu akan dibiarkan begitu saja, tanpa dihisab? atau, kamu mengira malaikat maut bisa disuap? Tidak. Demi Allah, harta dan anak- anak tidak ada yang dapat meloloskan kamu dari kematian. Yang berguna bagi penghuni kubur hanyalah amal baik.Sungguh beruntung orang yang mau mendengar, yang sadar, dan yang mampu mengendalikan nafsunya. Dalam surat an-Najm ayat 39-40 Allah berfirman, "Seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan bahwa usaha itu kelak akan diperlihatkan(kepadanya)."

Bangunlah dari tidur panjang ini.Kumpulkan amal saleh sebanyak mungkin sebagai bekal. Jangan berharap bisa hidup berdampingan dengan orang- orang yang berbakti di surga, jika kalian masih terus melakukan perbuatan orang- orang yang zalim. Takutlah kepada Allah. Tuhan pemilik bumi dan langit, janganlah kamu dimabuk oleh angan- angan, sehingga malas beramal. Cobalah dengar baik- baik apa yang pernah dikatakan oleh Nabi SAW. Ketika ia duduk di depan kubur, "Wahai saudara-saudaraku, seperti inilah nanti kalian akan dikembalikan." Simak dengan seksama firman Allah yang telah menciptakan kamu ini,
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik- baik bekal adalah taqwa."(al- Baqarah:197)

Seorang penyair berkata,

"Carilah bekal hidupmu
buat pulang ke tempat kembali nanti
berusahalah mengumpulkan bekal terbaik
untuk bertemu Allah
Dan jangan terlalu menumpuk kekayaan dunia
karena harta itu pasti akan musnah
Apakah kamu senang bersama suatu kaum yang punya banyak bekal
sementara kamu datang dengan tangan hampa?"


Seorang penyair lain mengatakan,

"Jika kamu berangkat tanpa bekal taqwa
dan setelah mati nanti kamu bertemu dengan orang- orang yang banyak bekal
kamu pasti menyesal, karena kamu tidk seperti mereka
kamu tidak bisa menunggu seperti aku menunggu."


Penyair lain mengatakan,

"Kematian adalah samudera yang bergelora
ombaknya menghanyutkan apa saja
Wahai jiwa, aku ingin mengatakan
maka dengarkanlah ucapan orang yang sayang dan ingin memberimu
nasihat yang tulus
tidak ada yang berguna bagi seorang di kuburnya
selain taqwa dan amal saleh."


Penyair lain mengatakan,

"Setelah membaringkan aku diatas tanah yang sepi dan gelap ini
merekapun pulng meninggalkan aku
yang sendiri dan merana
Hari ini yang ada adalah tangisan pilu
semua yang pernah ada seperti tidak ada sama sekali
semua yang dahulu kamu peringatkan
sekarang benar- benar terjadi
di sini aku tidak menemukan teman penghibur
dan kalau saja kamu lihat keadaanku yang sekarang
kamu pasti menangis sedih."


Penyair lain mengatakan,

"Ketika kau dilahirkan ibumu, kamu menangis
sementara orang- orang di sekelilingmu tertawa
maka buatlah pada hari kematianmu mereka menangis
sementara kamu tersenyum."


Diriwayatkan oleh Muhammad al-Qarsyi bahwa ia pernah mendengar gurunya mengatakan," Wahai manusia, aku adalah orang yang sayang dan ingin memberikan nasihat yang tulus pada kalian. Shalatlah di kegelapan malam untuk kegelapan kubur, berpuasalah sebelum datang hari kebangkitan, pergilah haji dengan bersusah payah dan bersedekahlah."

Sumber: Imam al-Qurthubi dalam Rahasia kematian, alam akhirat, dan hari kiamat.
Selengkapnya...